Bakau dan Mangrove: Jenis-Jenis, Perbedaan, dan Manfaat Lengkapnya!
Banyak dari kita yang selama ini menyebut semua pohon yang tumbuh di daerah pesisir sebagai “bakau”. Bahkan istilah “hutan bakau” sering digunakan untuk menggambarkan wilayah pantai yang penuh dengan pepohonan berakar kokoh dan menjulang dari lumpur. Padahal bakau dan mangrove itu memiliki arti yang berbeda.
Tapi tahukah kamu? Istilah tersebut sebenarnya belum tentu tepat secara ilmiah.
Meski sering dianggap sama, secara ekologis mangrove dan bakau ternyata punya makna yang berbeda. Mangrove merujuk pada keseluruhan ekosistem pesisir yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan, sementara bakau hanyalah salah satu jenis pohon yang hidup dalam ekosistem tersebut — tepatnya dari genus Rhizophora.
Kesalahan dalam penggunaan istilah ini cukup umum terjadi, terutama karena istilah “bakau” telah lebih dulu dikenal dan digunakan secara luas oleh masyarakat.
Namun, penting untuk memahami perbedaannya agar kita bisa melihat dengan lebih tepat peran dan manfaat dari masing-masing, baik dalam hal lingkungan, konservasi, hingga pemanfaatan ekonominya.
Apa Itu Mangrove?

Mangrove adalah ekosistem yang terbentuk di wilayah pesisir, khususnya di zona pasang surut antara daratan dan laut.
Ekosistem ini terdiri dari berbagai jenis tumbuhan yang mampu bertahan hidup di lingkungan dengan kadar garam tinggi, tanah berlumpur, dan tergenang air secara berkala.
Karena vegetasi yang tumbuh cukup rapat dan lebat, mangrove sering disebut juga sebagai “hutan mangrove”.
Tumbuhan yang hidup dalam ekosistem ini memiliki kemampuan adaptasi luar biasa, seperti menyaring air asin, menancapkan akar di tanah labil, dan bertahan dari gelombang laut.
Ekosistem mangrove sangat penting bagi kelangsungan biota laut seperti ikan, udang, dan kepiting, serta berperan sebagai pelindung alami garis pantai.
Akar-akar tumbuhan mangrove membantu menahan abrasi dan meredam energi gelombang laut.
Asal-Usul dan Konsep Hutan Mangrove

Pernah penasaran nggak sih, kenapa kita sering menyebut “hutan bakau” padahal yang dimaksud itu sebenarnya kawasan mangrove?
Istilah “mangrove” sendiri ternyata punya latar belakang yang cukup menarik. Kata ini berasal dari dua bahasa berbeda: “Mangue” dari bahasa Portugis yang artinya tumbuhan, dan “Grove” dari bahasa Inggris yang artinya belukar atau hutan kecil.
Gabungan keduanya lalu digunakan secara luas di dunia internasional untuk menggambarkan kawasan pesisir yang dipenuhi tumbuhan khas yang tumbuh di antara daratan dan laut.
Menariknya, di berbagai negara penyebutannya bisa beda-beda. Di Suriname misalnya, mangrove dikenal sebagai “Mangro”, khususnya untuk jenis Rhizophora mangle.
Di Prancis, istilahnya jadi “Manglier”. Sementara di Indonesia, kita lebih akrab dengan sebutan “hutan bakau” karena pohon bakau (dari genus Rhizophora) memang yang paling gampang dikenali dan banyak ditemukan di pesisir.
Dalam dunia ilmiah, kawasan ini dulu disebut “vloedbosh” dalam bahasa Belanda, yang artinya hutan pasang.
Lama-kelamaan, muncul juga istilah “hutan payau” karena habitatnya ada di peralihan antara air laut dan air tawar.
Ada juga yang menyebutnya “hutan pasang surut”, sesuai dengan kondisi wilayahnya yang memang sering tergenang air laut secara berkala.
Selain itu, menurut Supriharyono (dalam Ghufran, 2012), istilah “mangrove” bisa punya dua makna tergantung konteks penggunaannya:
- Bisa merujuk pada komunitas tumbuhan yang hidup di lingkungan berlumpur, asin, dan pasang surut.
- Bisa juga mengarah ke jenis pohon tertentu seperti Rhizophora, Avicennia, Sonneratia, dan lainnya.
Jadi, kalau kamu mendengar istilah “hutan bakau”, sebenarnya yang dimaksud adalah bagian dari ekosistem yang lebih luas — yaitu hutan mangrove.
Istilah “bakau” memang lebih populer di masyarakat, tapi kalau kita mau bicara lebih tepat secara ekologi, maka “mangrove” adalah istilah yang paling pas.
Apa Itu Bakau?

Setelah memahami bahwa mangrove adalah ekosistem, penting juga untuk mengenal salah satu tumbuhan khas yang hidup di dalamnya, yaitu pohon bakau. Bakau adalah jenis pohon dari genus Rhizophora yang hidup di kawasan mangrove.
Pohon ini memiliki ciri khas yang mudah dikenali, seperti akar tunjang yang besar dan mencengkeram tanah, batang yang kokoh, serta daun berbentuk lonjong yang tebal dan hijau mengkilap.
Pohon bakau sering dijadikan simbol konservasi mangrove karena perannya yang besar dalam menjaga garis pantai dari abrasi dan menyediakan habitat bagi berbagai makhluk hidup.
Beberapa spesies bakau yang umum ditemukan di Indonesia antara lain Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Rhizophora stylosa.
Jenis-Jenis Pohon Bakau
Rhizophora mucronata (Bakau Hitam)
Pohon bakau hitam dikenal sebagai salah satu spesies utama dalam ekosistem mangrove yang tumbuh di pesisir tropis, termasuk wilayah Indonesia. Pohon ini bisa tumbuh tinggi, mencapai sekitar 27 meter, dan mudah dikenali dari warna kulit batangnya yang gelap hingga kehitaman dengan celah horizontal.
Daunnya tebal dan bertekstur seperti kulit, tersusun berpasangan secara berlawanan. Bentuknya oval lebar hingga bulat memanjang, dengan ujung yang meruncing. Panjang daunnya bisa mencapai 23 cm dan lebarnya hingga 13 cm. Gagang daunnya berwarna hijau, dengan panjang sekitar 2,5–5,5 cm.
Bunga bakau hitam bersifat biseksual dan tumbuh berkelompok (sekitar 4–8 bunga per tandan), biasanya muncul di ketiak daun. Kelopak bunganya berwarna kuning pucat, sedangkan mahkotanya putih dan berbulu halus. Masing-masing bunga memiliki delapan benang sari tanpa tangkai.
Bakau hitam tersebar luas di wilayah pesisir tropis seperti Afrika Timur, Madagaskar, Asia Tenggara, Malaysia, Indonesia, hingga kepulauan Pasifik seperti Mikronesia dan Hawaii.
Rhizophora apiculata (Bakau Minyak)
Bakau minyak merupakan salah satu jenis pohon mangrove yang paling umum ditemukan di wilayah pesisir Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tumbuhan ini memiliki morfologi khas yang membedakannya dari jenis bakau lainnya.
Daun bakau minyak berbentuk elips menyempit dengan ujung runcing. Warnanya hijau tua di bagian atas, sementara bagian bawah berwarna kemerahan. Daun tersusun berlawanan dan memiliki permukaan mengkilap. Gagang daunnya relatif panjang, antara 17–35 mm, dan seringkali berwarna kemerahan.
Bunga bakau minyak bersifat biseksual, artinya memiliki bagian jantan dan betina dalam satu struktur. Bunganya tumbuh di ketiak daun, berkelompok dua per tangkai, dan berwarna kekuningan.
Kelopak bunga melengkung, berwarna kuning kecoklatan, dengan empat helai daun mahkota berwarna kuning-putih. Setiap bunga memiliki 11–12 benang sari tanpa tangkai. Musim berbunga umumnya terjadi antara bulan September hingga Desember, dengan intensitas yang meningkat pada musim hujan.
Pohon ini mampu tumbuh hingga ketinggian 30 meter. Akar udaranya (akar tunjang) mencuat dari batang atau cabang, menjulang hingga 5 meter di atas permukaan tanah. Kulit kayunya berwarna abu-abu tua dan memiliki tekstur yang bisa berubah tergantung usia pohon.
Rhizophora apiculata tersebar luas mulai dari Sri Lanka, seluruh wilayah Malaysia dan Indonesia, hingga Australia bagian utara dan beberapa wilayah kepulauan di Pasifik.
Rhizophora stylosa
Rhizophora stylosa merupakan salah satu Jenis pohon bakau yang banyak ditemukan di pesisir tropis, termasuk di Indonesia. Pohon ini dapat tumbuh hingga setinggi 10 meter dengan batang berkayu halus, bercelah, dan berwarna abu-abu hingga kehitaman. Akar tunjangnya menonjol dan kuat, bisa mencapai panjang 3 meter, dengan akar udara yang tumbuh dari cabang-cabang bagian bawah.
Daunnya tersusun berhadapan, berbentuk elips melebar dengan ujung meruncing, permukaan bawah daun memiliki bintik-bintik halus, dan tangkainya berwarna hijau dengan panjang antara 1–3,5 cm. Ukuran daun biasanya sekitar 4–6 cm.
Bunga Rhizophora stylosa tumbuh berkelompok di ketiak daun, biasanya dalam jumlah 8–16 bunga per kelompok. Bunganya bersifat biseksual, memiliki empat mahkota berwarna putih, berbulu halus, dan berukuran sekitar 8 mm. Musim berbunga dan berbuah terjadi antara bulan Oktober hingga Desember.
Spesies ini tersebar luas di kawasan Asia Pasifik seperti Taiwan, Malaysia, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, dan bagian utara Australia. Di Indonesia sendiri, Rhizophora stylosa tercatat tumbuh di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Perbedaan Bakau dan Mangrove
| Aspek | Mangrove | Bakau |
| Definisi | Ekosistem di pesisir | Jenis pohon dalam ekosistem mangrove |
| Jumlah jenis | Ratusan spesies | Spesifik: Rhizophora spp. |
| Fungsi | Menjaga ekosistem dan habitat | Menahan abrasi, peneduh, penyaring |
| Contoh tumbuhan | Api-api, pedada, nipah, bakau, dll | Rhizophora mucronata, R. apiculata |
Manfaat Mangrove

Mangrove bukan hanya pelindung alami pantai, tetapi juga penopang kehidupan bagi banyak makhluk hidup. Berikut beberapa manfaat penting dari hutan mangrove:
Menahan Abrasi dan Gelombang Laut
Akar-akar mangrove yang rapat dan kuat sangat efektif dalam mengurangi kecepatan gelombang laut. Mereka membantu menahan erosi atau abrasi pantai, mencegah daratan terkikis oleh arus laut, dan menjaga kestabilan garis pantai.
Menyerap Karbon Dioksida, Menghasilkan Oksigen
Seperti halnya tumbuhan lain, mangrove menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan menghasilkan oksigen (O₂). Menariknya, mangrove termasuk dalam vegetasi penyerap karbon paling efektif di dunia, bahkan lebih baik dari hutan tropis daratan.
Habitat dan Tempat Berlindung Biota Laut
Mangrove menyediakan tempat berlindung, berkembang biak, dan mencari makan bagi berbagai spesies laut seperti ikan, udang, dan kepiting. Banyak nelayan menggantungkan hidupnya pada kelimpahan biota yang tumbuh di kawasan ini.
Penyaring Alami Polutan
Mangrove dapat menyerap logam berat dan polutan lain dari air, menjadikannya sistem penyaringan alami yang menjaga kualitas air di pesisir dan estuari.
Pemanfaatan Ekonomi dan Budaya
Masyarakat pesisir memanfaatkan bagian-bagian tumbuhan mangrove untuk bahan bangunan, obat-obatan tradisional, hingga bahan pewarna alami. Selain itu, kawasan mangrove yang indah juga punya potensi besar untuk ekowisata.
Ancaman Serius terhadap Ekosistem Mangrove

Sayangnya, keberadaan mangrove kini menghadapi tekanan besar. Banyak kawasan mangrove dikonversi menjadi tambak, pemukiman, atau pelabuhan. Penebangan liar, pencemaran limbah, dan reklamasi pesisir mempercepat kerusakan ekosistem ini.
Jika ingin menanam pohon mangrove ini, dan membutuhkan tanaman ini sebagai tanaman halaman anda atau untuk kebutuhan lanskap taman.
Perusahaan kami CV. Agrotani Sejahtera yang menyediakan berbagai ukuran bibit hingga sedang dari bibit pohon mangrove maupun jenis tanaman lainnya dengan kualitas terbaik dan tentunya harga yang bersahabat juga.
Kami kelompok usaha tani yang bergerak di bidang penyediaan tanaman untuk penghijauan.
Tanaman yang kami jual merupakan hasil langsung dari petani maka dari itu tanaman dari kami memiliki kualitas yang unggul dan tentunya dengan harga yang terjangkau.
Untuk menanyakan harga pohon mangrove atau ingin berkonsultasi terlebih dahulu anda bisa menghubungi kami di : WA/SMS/TELEPHONE 081272952618. Informasi lebih lengkap KLIK DISINI

