Pohon Pule (Alstonia scholaris) adalah salah satu jenis pohon peneduh yang cukup populer di Indonesia, terutama untuk penghijauan jalan raya, taman kota, dan area perkantoran. Pohon ini memiliki batang tinggi menjulang, daun hijau rimbun tersusun melingkar, dan bunga kecil berwarna putih kehijauan yang mengeluarkan aroma khas pada malam hari.
Keindahan tajuknya membuat pule atau sering juga disebut pulai tidak hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga memberi nilai estetika pada lingkungan. Tajuk yang lebar mampu menurunkan suhu sekitar dan menciptakan suasana yang lebih sejuk, sehingga nyaman untuk pejalan kaki maupun warga yang beraktivitas di sekitarnya.
Di Jawa, masyarakat menyebutnya pule, di Sunda, orang mengenalnya sebagai lame, sedangkan di Makassar, mereka menyebutnya rita. Meski sebutannya berbeda-beda, banyak orang tetap mudah mengenali ciri khasnya.
Sebaran pohon ini tidak hanya terbatas di Indonesia. Tanaman ini juga tumbuh alami di negara-negara Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia Utara.
Daya adaptasinya yang tinggi membuat pule mampu hidup di berbagai kondisi tanah dan iklim, mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Keunggulan inilah yang membuat pohon pulai menjadi salah satu pilihan favorit untuk penghijauan di berbagai wilayah tropis.
Asal Usul Pohon Pule

Orang menggunakan nama pohon pule untuk menyebut beberapa jenis pohon dalam genus Alstonia, dan Alstonia scholaris menjadi jenis yang paling terkenal. Memiliki batang lurus dan menjulang tinggi, daun tersusun berhadapan, serta bunga kecil yang tumbuh bergerombol dalam tandan.
Habitat alaminya meliputi hutan hujan tropis, hutan dataran rendah, dan wilayah beriklim tropis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Pemanfaatannya meliputi industri kayu untuk bahan bangunan dan pembuatan furniture.
Masyarakat memanfaatkan beberapa spesies Alstonia, termasuk Alstonia scholaris, dalam pengobatan tradisional dan memberi nilai budaya di berbagai daerah.
Taksonomi Pohon Pule
| Kingdom | Plantae |
| Divisi | Tracheophyta |
| Kelas | Magnoliopsida |
| Ordo | Gentianales |
| Famili | Apocynaceae |
| Genus | Alstonia |
| Spesies | Alstonia scholaris(L.) R.Br |
Ciri-ciri Pohon Pule
Batang

sumber: theplastid
Batang pohon pule tumbuh tegak lurus dan dapat mencapai tinggi 20–40 meter. Kulit batangnya berwarna abu-abu hingga cokelat muda, dengan tekstur agak kasar dan sering mengelupas tipis.
Daun

sumber: forester_jan
Daun pule tersusun melingkar dengan jumlah 4–7 helai per ruas. Bentuknya lonjong memanjang dengan ujung meruncing, permukaan atas hijau mengkilap, sedangkan bagian bawah lebih pucat. Tulang daun menyirip rapi dan jelas terlihat, membantu proses fotosintesis secara optimal.
Bunga

sumber: kanapol99
Bunga pule berukuran kecil, berwarna putih kehijauan, dan tumbuh dalam tandan di ujung ranting. Aromanya wangi terutama pada malam hari, berfungsi untuk menarik serangga penyerbuk seperti ngengat. Musim berbunga umumnya terjadi pada akhir musim kemarau hingga awal musim hujan.
Buah dan Biji
Buah pule berbentuk polong panjang dan ramping, berisi banyak biji kecil berbulu halus. Struktur ini memudahkan biji terbawa angin untuk menyebar ke tempat lain.
Akar

sumber: aztekium
Akar pule berkembang kuat dan menyebar lebar. Selain menopang batang, akar ini membantu pohon bertahan hidup meski di tanah kurang subur.
Habitat dan Penyebaran Pohon Pule
Pule (Alstonia scholaris), atau pulai kayu, menyebar dan tumbuh alami di wilayah tropis dan subtropis Asia Tenggara. Pohon ini tumbuh di hutan hujan tropis, hutan dataran rendah, dan daerah beriklim tropis dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Suhu hangat dan kelembapan udara yang tinggi menjadi kondisi ideal bagi pertumbuhan pohon ini.
Penyebaran pohon pule cukup luas, meliputi negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan sekitarnya. Habitatnya beragam mulai dari perbukitan, dataran rendah, hingga kawasan hutan hujan sehingga mendukung keragaman genetik pada tiap populasinya.
Selain tumbuh di alam liar, pohon pule juga banyak dibudidayakan di tepi jalan, taman kota, dan halaman rumah sebagai tanaman peneduh atau penghias.
Manfaat Pohon Pule
Sebagai Pohon Peneduh
Pohon pule punya tajuk yang lebar dan daun yang rimbun, sehingga efektif memberikan keteduhan. Nggak heran kalau banyak orang menanam pohon ini di tepi jalan, taman kota, atau halaman kantor.
Selain bikin suasana lebih sejuk, keberadaan pohon pule juga mengurangi efek panas dari aspal dan beton di perkotaan. Tajuknya yang tinggi juga aman untuk lalu lintas karena tidak menghalangi pandangan pengendara.
Penyerapan Polusi dan Penyaring Udara
Daun tanaman pule dapat menangkap partikel debu dan polutan yang beterbangan di udara, sehingga kualitas udara di sekitarnya jadi lebih baik. Pohon ini juga menghasilkan oksigen dalam jumlah besar, yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Di daerah padat lalu lintas, pohon pule membantu mengurangi polusi udara dan meredam kebisingan.
Potensi Obat Tradisional
Sejak dulu, masyarakat memanfaatkan berbagai bagian pohon pule untuk pengobatan tradisional. Mereka menggunakan kulit batangnya karena sifat antipiretik (penurun panas) dan antimalaria yang dimilikinya. Dalam dosis tertentu, mereka juga mengoleskan getahnya untuk mengobati luka luar.
Bahkan, di beberapa daerah di India dan Asia Tenggara, ekstrak dari pohon pule digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Meski begitu, penggunaannya tetap harus hati-hati dan sebaiknya di bawah pengawasan ahli herbal atau tenaga medis.
Jenis Pohon Pule
1. Pohon Pule Putih
Pule putih adalah salah satu varietas lokal pohon pule yang banyak dijumpai di Pulau Jawa. Pohon ini biasanya tumbuh di daerah dengan tanah agak kering dan tidak terlalu cocok pada lahan yang tergenang air.
Ukuran pule putih bisa mencapai tinggi dan diameter yang cukup besar. Kulit batangnya berwarna putih dengan semburat kecoklatan, memberikan kesan khas pada penampilannya. Bentuk batangnya proporsional dari pangkal hingga ujung, sementara tajuknya yang lebar membuatnya ideal sebagai peneduh.
Menariknya, pada usia puluhan tahun, batang pule putih dapat mengalami perubahan tekstur hingga menyerupai kayu fosil, sehingga menambah nilai estetikanya.
2. Pohon Pule Hitam
Pule hitam banyak dijumpai di wilayah Sumatra, terutama di sepanjang pinggiran sungai yang memiliki suplai air melimpah. Karakteristiknya hampir sama dengan pule putih, namun perbedaannya terlihat jelas pada warna kulit batangnya yang cenderung gelap hingga hitam.
Walaupun habitat alaminya berada di area yang lembab, pule hitam tetap bisa tumbuh baik jika dipindahkan ke tanah dengan kondisi agak kering. Menariknya, pohon ini juga dapat mengalami proses semi-fosil ketika sudah mencapai usia tertentu.
3. Pohon Pule Kuning
Kulit batang pohon pule kuning berwarna kuning, membedakannya dari jenis pule lainnya. Pohon ini juga memiliki keunikan langka: mampu berubah menjadi fosil alami setelah berusia puluhan tahun, minimal sekitar 20 tahun.
Baca juga: Pohon Pulai
Varietas ini tumbuh melimpah di wilayah timur Indonesia, khususnya di NTT dan NTB yang memiliki tanah kering dan minim kandungan air. Kondisi lingkungan tersebut membuat pertumbuhan pule kuning cenderung lambat, sehingga kayunya menjadi padat dan keras, memberi karakter alami yang menyerupai fosil.
4. Pohon Pule Air
Sesuai namanya, pule air umumnya tumbuh di area rawa, terutama di wilayah Sumatera. Jenis ini memiliki lapisan kambium yang cukup tebal. Berbeda dengan jenis pule lainnya, pule air tidak bisa tumbuh optimal di daerah kering.
Jika dipindahkan ke tanah yang minim air, batangnya cenderung mengempis atau kehilangan volume. Karena itu, pule air membutuhkan suplai air yang stabil agar bisa bertahan dan tumbuh dengan baik.
5. Pohon Pule Fosil
Terkait pohon pule fosil, sebenarnya jenis pule kuning memiliki kemungkinan untuk berubah menjadi fosil secara alami. Namun, jenis yang paling sering diolah menjadi pule fosil adalah pule putih, melalui proses penyayatan pada bagian kulit batangnya.
Fosil dari pule putih biasanya menonjolkan kesan alami dan memperlihatkan keindahan serat kayu lebih jelas dibandingkan fosil dari pule kuning. Fosil pule kuning terbentuk secara alami tanpa campur tangan manusia.

